Selasa, 11 November 2008

NEGERI INI TELAH LAHIR KEMBALI

Selasa, 11 November 2008
0 komentar
Oleh : Adi Suhara

Dari puncak Masurai
Kembali kutatap Liukan Sungai Tabir menari-nari
Mengikuti irama gemericik air
Sesaat setelah lonceng jam gento
Mengucapkan slamat pagi
Pada Bumi Tali Undang Tambang Teliti

Di sini, di puncak ini
Kembali kutatap ribuan pohon karet
Berbaris rapi, dan burung-burung
Riang bernyanyi
Sesaat sebelum sepoi
menyampaikan kabar pada embun
Bahwa : Negeri ini telah lahir kembali

Bangko, 25 Juni 2008

read more

MENGOREK ARKEOLOGI PURBA

0 komentar
Oleh: Adi Suhara

Ataukah kembali kita muntahkan
Waktu ke cagar ini sia-sia
Demi relief-relief lusuh tak bernyawa
Tentang silam yang pernah terabadikan
Oleh kejayaan di situs ini

Sementara ubin-ubin kian berlumut
Dari petak-petak masalalu
Yang tak pernah akur dengan hitungan waktu

Lihatlah, waktu terus menjerit
Berlari mengejar hari ini

Di saat kita kembali menghitung
Inci demi inci pijak-pijak purba
Peradaban silam

Mengorek kembali arkeologi purba :
Ada perjanjian suci
Pernah terjadi di cagar ini

Jambi, Maret 2003

read more

Minggu, 19 Oktober 2008

SASTRA JAMBI MISKIN KRITIK

Minggu, 19 Oktober 2008
1 komentar
Oleh:Adi Suhara

Kurangnya kualitas suatu karya sastra salah satunya disebabkan oleh kurangnya kritik atas karya sastra itu sendiri, dan kurangnya kritik sastra menyebabkan para kreator karya sastra menjadi monoton dengan gaya yang itu-itu saja. Sehingga perkembangan sastra tetap saja tidak mengalami kemajuan alias jalan di tempat.

Hal semacam ini terjadi di Jambi. Saat ini terasa sekali bahwa kritik sastra Jambi masih kurang. Padahal, meminjam istilah Monas Junior beberapa tahun yang lalu “BILA BANYAK ESSAI YANG GENIT” maka para kreator sastra pun semakin terpacu untuk meningkatkan kualitas karyanya. Tentunya terlepas dari standar para kritikus yang berbeda-beda dalam menilai sebuah karya sastra.

Di Jambi, dunia kritik sastra belum begitu popular. Kebanyakan para kritikus Jambi saat ini masih berkutat pada kritik lisan, yaitu kritik yang disampaikan secara spontan terhadap sebuah karya. Padahal, bila diaktualisasikan dalam bentuk tulisan (essai), dan dipublikasikan di media cetak tentu akan memberikan nilai tambah dan pengaruh yang lebih luas terhadap perkembangan sastra itu sendiri.

Di beberapa rubrik-rubrik sastra media cetak lokal, hanya beberapa nama saja yang sempat muncul memberikan kritik terhadap iklim sastra Jambi. Sebut saja Yupnical Saketi, Bambang Setiawan, dan Firdaus. Namun, beberapa nama tersebut masih berkutat pada kritik seni secara umum, dan belum menyentuh pada hal teknis dan nilai-nilai normative suatu karya. Wajar saja saat ini para penulis muda Jambi belum menemukan resep dan kombinasi yang tepat dalam berkarya. Karena secara tennis mereka masih memerlukan bimbingan.

Kritik sastra ibarat suplemen bagi kreator sastra. Gemuk dan kurusnya nilai gizi suatu karya dapat dilihat dari kacamata sang kritikus. Semakin banyak dan semakin tajam analisa sang kritikus dalam menganalisa karya kreator, tentunya bisa meningkatkan kualitas kreator dalam berkarya. Apalagi bagi para penulis muda (penulis pemula) yang masih minim pengetahuan tentang bagaimana sebuah karya itu bisa disebut karya berkualitas. Biasanya, mereka senang sekali kalau karya mereka sempat diulas di media cetak.

Sayangnya dunia kritik-mengkritik ini belum membudaya di Jambi. Sastra Jambi kini masih miskin kritik. Seharusnya seiring dengan perkembangan iklim sastra, dunia kritik juga perlu untuk tumbuh dan berkembang. Karena sinergis antara para kreator sastra dan kritikus sastra mempunyai andil yang besar dalam perkembangan sastra itu sendiri. Meskipun secara rill iklim sastra Jambi saat ini belum menunjukkan perkembangan yang memuaskan.

Di akhir tulisan ini, sebagai pencinta dan penikmat karya sastra, penulis hanya bisa berharap dan menghimbau rekan-rekan yang juga punya ketertarikan dan minat terhadap dunia sastra, agar mau ikut ambil bagian dalam memberi masukan dan kritik terhadap perkembangan sastra jambi. Tentunya melalui masukan dan kritik yang cerdas, karena melalui masukan dan kritik yang cerdaslah iklim sastra Jambi bisa kembali menggeliat. Penulis yakin-mengutip pernyataan DR.Ir.H.M.Havidz Aima, M.S dalam pengantar Antologi Puisi Negeri Nurani-bahwa benih-benih elok nan kemilau dari Bumi Sepucuk Jambi Sembilan Lurah, suatu saat dan tak lama lagi akan turut mewarnai perkembangan dan perubahan sastra di Indonesia.

Semoga saja!

read more

AKU INGIN MENGAJARI BUNGA TERSENYUM

0 komentar
Oleh:Adi Suhar

Ketika kabut membutakan pagi
Hanya sedu dan isak yang mengkuncupi bunga
Sudut-dudut langit pecah menanam gerimis
Pada tanah yang haus akan peluk embun
: Ingin sekali aku mengajari bunga tersenyum saat itu

Saat kepedihan hinggap di pelupuk mata bunga
Aku ingin menjadi mentari pagi
Agar mampu mengibari bendera perdamaian
Atau juga bendera setengah tiang
Sbagai tanda perkabungan

Tapi sayang,
Bunga tlah mengkepompong dengan kesedihannya
Hingga tekadku menjadi mentari pagi
Akan segera sia-sia

Ingin sekali aku mengajari bunga tersenyum
Mengajaknya tertawa

Ingin sekali aku mengajari bunga tersenyum
Agar ia mampu menari dan bernyanyi
Saat pagi berkicau di bibir jagatraya

Menarilah bunga..
Menyanyilah bunga..
Tersenyumlah..

Penghuni pagi
Akan slalu setia menyambutmu

Jambi, Februari 2006

read more

BATANGHARI

0 komentar
Oleh:Adi Suhara

Mengeja setiap lirikmu
Lewat bibir-bibir rumah panggung
Ada lagu duka yang terselip
Diantara ribuan puisi yang kau aliri

Itulah lagu yang sering kau dendangkan untukku
Semenjak awalmula aku menancapkan sisa umur
Di Tanah Pilih ini
Hingga kita sama-sama menangis

Mei, 2003

read more

Jumat, 17 Oktober 2008

MERANGKAI CUACA

Jumat, 17 Oktober 2008
2 komentar
Oleh: Adisuhara

Lalu mulailah aku merangkai cuaca
Mengejanya dari Alif sampai Ya
Dari sisa hujan yang kutampung
Dari sungai air matamu
Ketika aku tau kau masih menyimpan rembulan

Mataharipun sengaja aku tanam
Dibalik mendung yang kau tawarkan
Agara dari sisa kabut
Masih bisa kurangkai pelangi

read more

KUBACA LAGI RIAK BATANGHARI

1 komentar
Oleh:Adisuhara

Kubaca lagi riak Batanghari
Ada senandung lirih mengalir sendu
Hanyut terbawa arus diantara tebing-tebing kota tembok
Dan ribuan pantun ikut terendam, karam memfosil
Menjadi bait-bait langka tanpa nyawa

Kubaca lagi riak Batanghari
Ada sederet luka melantun dari bibir-bibir dermaga
Ketika kompangan tak lagi tersemai
Jadi arak-arakan pengantin
Dan sekapur sirih tak lagi berpijar
Jadi menu persembahan

Kubaca lagi riak Batanghari
Barangkali masih tersisa bulir-bulir puisi
Untuk kurangkai jadi Do’a

Jambi, Juli 2004

read more
 
Copyright © adisuhara blog's | Powered by Blogger | Template by Blog Go Blog