Jumat, 04 Januari 2013

Puisi Melayu Adi Suhara dalam antologi "Sauk Seloko" (Bunga Rampai Puisi Pertemuan Penyair Nusantara VI, Jambi 2012)


Di Tanah Jambi

Pagi, embun dipikat di rimbun pucuk karet
ketipak-ketipung daun-daun iringi jerit punai merindu
cucur getah bercampur keringat berluka nanah di batang para
sejak nenek moyang beranak-pinak di tanah ini

Senja, secangkir kawo terhidang di tikar pandan
ruak-ruak melenggang lantunkan lagu ilalang
bujang gadis menanam pantun
di tanah ladang

Malam, di bawah sinar bulan
sekumpulan gadis berselampit delapan
berselendang mayang
melagukan krinok tauh sepanjang halaman

Tabir Ulu, 28 Maret 2012

Catatan:
Kawo              : Minuman yang terbuat dari rebusan pucuk daun kopi yang dikeringkan
Ruak-ruak       : Sejenis burung rawa
Krinok Tauh    : Musik/ lagu tradisional Jambi

Puisi Adi Suhara dalam antologi "Dari Sragen Memandang Indobnesia" (DKDS, 2012)

SUKOWATI, PUTRI ABAD PURBAWI
: Kabupaten Sragen

Mengitari tigaratus enampuluh derajat tubuhmu
antara kendeng dan gunung lawu
kutemukan kedungombo beriak di liar matamu
nafasmu adalah hembusan angin gunung
darahmu adalah airmata yang mengaliri bengawan solo
dan detak jantungmu adalah derap pejalan kaki di stasiun gemolong
aku mengenal namamu: Sukowati, putri abad purbawi

menjelajahi tubuhmu yang puisi
tak habis berabad-abad kata dalam kamus-kamus bahasa
menyelami gemericik denyut urat nadimu
aku seperti terlempar ke abad batu
di lekukan tubuhmu yang memendam sejuta rindu

Tabir Ulu, 08 Oktober 2012

PAGI DI TUBUHMU
: Sukowati

Aku melihat batang-batang pagi
di tubuhmu wahai kekasih
mengkilatkan butir embun
di pucuk kuncup paling ranum
lalu pecahan matahari mengurat nadi
mengukir di setiap lekukan
tubuhmu yang puisi

                                    Tabir Ulu,  Mei-Nopember 2012

Senin, 26 November 2012

Setampuk Kasih


tentang perjamuan kita di rumah panggung
setampuk kasih menjurai rindu
terendam jauh ke lubuk dalam
lalu terkenanglah pantun nan selarik
sirih pinang nan senampan

kini temali lah terurai, biduk lah melaut
kemana haluan hendak ditambat
selain hanyut mengikuti riak gelombang
menelusuri tanjung nan berliku, kampung nan beradat
entah muara mana kasih melabuh

Tabir Ulu, 10 Agustus 2012

Kamis, 13 September 2012

Puisi Melayu Adi Suhara dipublikasikan di Horison Online tanggal 09 September 2012



 Oi Nak

Oi nak, berlarilah seperti kijang jantan
jangan seperti kukang di dahan jelutung
jangan serupa pungguk di pucuk nibung
langit lah ngajarkan kita menganyam nipah
tanah lah ngajarkan kita menganyam pandan

Oi nak, mulailah belajar meniti nasib
supaya kerak hidup tak lagi menghitam
terombang-ambing seperti buih mengapung di dulang

Oi nak, tiuplah api di tengah laman
biar terang sepanjang malam
nandungkan krinok, tabuhkan gendang
biar  terhibur seisi jaman

Oi nak, matahari lah mulai meninggi
berjalanlah ke rantau jauh
bila tersesat, menepilah di sungai nan tenang
agar biduk bisa kau tambatkan di tepian

Tabir Ulu, 30 Juli 2012