Tabir Ulu adalah sebuah Kecamatan yang ada di Kabupaten Merangin
Propinsi Jambi, daerah yang terletak di sepanjang aliran Sungai Tabir
ini mempunyai beberapa kearifan lokal yang sampai sekarang masih terjaga
keberadaannya. Salah satu kearifan lokal tersebut adalah adanya Lubuk
Larangan Desa, yaitu sebuah lokasi di aliran Sungai Tabir yang
disepakati oleh masyarakat setempat sebagai tempat untuk berkembang
biaknya ikan sungai. Di lokasi ini masyarakat dilarang untuk mengambil
ikan sampai waktu panen tiba. Lubuk larangan ini dipanen oleh
masyarakat secara berkala biasanya dua tahun sekali, itupun hanya dibuka
untuk beberapa hari saja sebagai ajang pesta ikan bagi masyarakat. Bagi
yang kedapatan mengambil ikan sebelum waktu panen tiba, maka akan
dikenakan sanksi adat oleh masyarakat setempat.
Keberadaan lubuk
larangan ini sangat dirasakan oleh masyarakat Tabir Ulu, selain untuk
kelangsungan ikan sungai lubuk larangan ini menjadi sebuah sumber
pemasukan bagi kas Desa. Biasanya saat panen, bagi yang ingin memancing
dan menjala ikan di areal lubuk larangan akan dikenakan biaya. Untuk
memancing dipatok biaya Rp.100.000, dan untuk menjala ikan dikenakan
biaya sebesar Rp.200.000.
Uang yang terkumpul akan digunakan
untuk pembangunan infrastruktur di desa, salah satu Desa yang merasakan
betul manfaat dari adanya lubuk larangan ini adalah Desa Kapuk, Desa
yang merupakan pintu gerbang bagi Kecamatan Tabir Ulu ini sekarang
mempunyai tiga buah lubuk larangan. Dana yang didapat dari hasil lubuk
larangan ini telah digunakan untuk pembangunan kios di pasar kalangan,
jalan usaha tani dan sebagian lagi disumbangkan ke mesjid-mesjid dan
langgar-langgar yang ada di desa ini.
Sungguh sebuah karifan
lokal yang sepatutnya bisa ditiru oleh daerah lain. Paling tidak dengan
adanya potensi desa (lubuk larangan) ini, Desa tersebut tidak kesulitan
untuk mencari dana bagi pembangunan infrastruktur di desanya, sehingga
pembangunan akan terus berkelanjutan.
Tampilkan postingan dengan label Catatan Budaya. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Catatan Budaya. Tampilkan semua postingan
Jumat, 10 Agustus 2012
Sumpah Dewo Orang Rimba
Orang rimba atau yang sering disebut Suku Anak Dalam (SAD) mempunyai
kebiasaan unik, yaitu mereka tidak mau memakan hewan atau binatang yang
dipelihara, tidak mau hidup menetap, selalu berpindah-pindah. Kebiasaan
ini terkait dengan persumpahan nenek moyang mereka yang mereka sebut
“Sumpah Dewo” inilah bunyi Sumpah Dewo mereka:
“Hidup beayam kuau, bekambing kijang, bekerbau ruso, sudung (rumah) beatap sikai, badinding banir, balantai tanah yang bekelambu resam, suko berajo, bejenang, babatin, bapenghulu”
Menurut kepercayaan mereka, jika diantara mereka ada yang melanggar persumpahan nenek moyang ini, maka dia akan hidup menderita berkepanjangan. Hal ini digambarkan dalam seloko adat mereka;
“Di bawah idak berakar, di ataih idak bepucuk, tengah-tengah ditebuk kumbang, kalo ke darat diterkam imau, ke air ditangkap buayo”
“Hidup beayam kuau, bekambing kijang, bekerbau ruso, sudung (rumah) beatap sikai, badinding banir, balantai tanah yang bekelambu resam, suko berajo, bejenang, babatin, bapenghulu”
Menurut kepercayaan mereka, jika diantara mereka ada yang melanggar persumpahan nenek moyang ini, maka dia akan hidup menderita berkepanjangan. Hal ini digambarkan dalam seloko adat mereka;
“Di bawah idak berakar, di ataih idak bepucuk, tengah-tengah ditebuk kumbang, kalo ke darat diterkam imau, ke air ditangkap buayo”
Asal-usul Orang Rimba
Orang Rimba atau yang dikenal dengan Suku Anak Dalam (SAD) merupakan
salah satu etnik tradisional yang ada di Indonesia. Orang Rimba ini
tersebar luas di Propinsi Jambi, dan hanya beberapa saja di Sumatera
Barat dan Sumatera Selatan. Sesuai dengan sebutannya “Orang Rimba”,
keberadaan mereka memang lebih banyak di dalam hutan dan selalu hidup
berpindah-pindah, meskipun sekarang ada yang sudah mulai menetap.
Hutan merupakan sumber penghasilan Orang Rimba. Kebanyakan mereka menggantungkan hidup dari berburu hewan liar di hutan, mencari rotan, atau damar yang akan dijualnya kepada “Orang Terang” (Sebutan Orang Rimba kepada Penduduk luar). Sampai saat ini Orang Rimba dan Orang Terang selalu hidup berdampingan, dan tidak ada perselisihan. Menurut Orang Rimba, Orang Terang adalah saudara mereka, dan sudah ada perjanjian sejak dahulu kala kalau Orang Rimba tidak boleh mengganggu Orang Terang dan Orang Terang tidak boleh mengganggu Orang Rimba. Ada yang unik dari kebiasaan Orang Rimba, mereka tidak mau memakan hewan/ binatang yang dipelihara. Menurut mereka hewan yang dipelihara berjasa bagi manusia, untuk itu tidak boleh dijadikan makanan.
Mengenai asal-usul Orang Rimba, ada beberapa pendapat yang berkembang di tengah masyarakat Jambi. Sebagian ada yang mengatakan kalau Orang Rimba atau Suku Anak Dalam berasal dari Pagaruyung, Suku Anak Dalam merupakan prajurit Pagaruyung yang sengaja diutus untuk menyampaikan pesan kepada Raja Jambi yang diperjalanan Prajurit tersebut tersesat, dan akhirnya memutuskan untuk hidup di hutan. Pendapat lain menyebutkan kalau Orang Rimba pada zaman perjuangan dahulu awalnya hanyalah Penduduk Biasa yang sengaja memutuskan untuk tinggal dan hidup di hutan karena mereka tidak mau dijajah Belanda. Terlapas benar atau tidak kedua pendapat tersebut, sampai sekarang pendapat tersebut masih berkembang ditengah masyarakat Jambi.
Hutan merupakan sumber penghasilan Orang Rimba. Kebanyakan mereka menggantungkan hidup dari berburu hewan liar di hutan, mencari rotan, atau damar yang akan dijualnya kepada “Orang Terang” (Sebutan Orang Rimba kepada Penduduk luar). Sampai saat ini Orang Rimba dan Orang Terang selalu hidup berdampingan, dan tidak ada perselisihan. Menurut Orang Rimba, Orang Terang adalah saudara mereka, dan sudah ada perjanjian sejak dahulu kala kalau Orang Rimba tidak boleh mengganggu Orang Terang dan Orang Terang tidak boleh mengganggu Orang Rimba. Ada yang unik dari kebiasaan Orang Rimba, mereka tidak mau memakan hewan/ binatang yang dipelihara. Menurut mereka hewan yang dipelihara berjasa bagi manusia, untuk itu tidak boleh dijadikan makanan.
Mengenai asal-usul Orang Rimba, ada beberapa pendapat yang berkembang di tengah masyarakat Jambi. Sebagian ada yang mengatakan kalau Orang Rimba atau Suku Anak Dalam berasal dari Pagaruyung, Suku Anak Dalam merupakan prajurit Pagaruyung yang sengaja diutus untuk menyampaikan pesan kepada Raja Jambi yang diperjalanan Prajurit tersebut tersesat, dan akhirnya memutuskan untuk hidup di hutan. Pendapat lain menyebutkan kalau Orang Rimba pada zaman perjuangan dahulu awalnya hanyalah Penduduk Biasa yang sengaja memutuskan untuk tinggal dan hidup di hutan karena mereka tidak mau dijajah Belanda. Terlapas benar atau tidak kedua pendapat tersebut, sampai sekarang pendapat tersebut masih berkembang ditengah masyarakat Jambi.
Seloko Adat Jambi
Lain padang lain ilalang, lain lubuk lain ikannya begitu juga lain
tempat, lain pula pepatah adatnya. Berikut ini saya sajikan beberapa
pepatah adat yang ada di tengah masyarakat Jambi sebagai bagian dari
khasanah kebudayaan Indonesia:
Pemimpin itu hendaknyo ibarat sebatang pohon, batangnyo besak tempat besandar, daunnyo rimbun tempat belindung ketiko hujan tempat beteduh ketiko panas, akarnyo besak tempat besilo.. pegi tempat betanyo, balik tempat babarito.
(Pemimpin itu hendaknya jadi pengayom)
Janganlah Telunjuk lurus, kelingking bekait..
( janganlah lain di kata lain di hati)
Jangan menggunting kain dalam lipatan, menohok kawan seiring..
(jangan menghianati kawan sendiri)
Hendaknyo masalah iko Jatuh ke api hangus, jatuh ke aek hanyut..
(hendaknya masalah ini cukup selesai di sini/cukup sampai di sini)
Hendaknyo tibo nampak muko, balik nampak punggung..
(hendaknya datang secara baik-baik, pergi juga secara baik-baik)
Awak pipit nak nelan jagung
(impian yang terlalu besar, impian yang tidak mungkin)
Pegi macang babungo, balik macang bapelutik..
(istilah yang dipakai untuk orang yang merantaunya hanya sebentar)
Kalu aek keruh di muaro, cubo tengok ke hulu
(Kalau ada suatu masalah terjadi, cobalah lihat dulu penyebabnya)
Tepagar di kelapo condong, batang di awak buah di kanti
(Istilah ini dipakai untuk yang salah menikahi pasangannya, raga millik kita tapi cinta milik orang lain)
Itulah beberapa pepatah/sloko adat Jambi yang bisa saya informasikan, tentunya masih banyak lagi pepatah-pepatah lain yang sering dipakai dalam keseharian maupun dalam acara adat masyarakat Jambi..
Pemimpin itu hendaknyo ibarat sebatang pohon, batangnyo besak tempat besandar, daunnyo rimbun tempat belindung ketiko hujan tempat beteduh ketiko panas, akarnyo besak tempat besilo.. pegi tempat betanyo, balik tempat babarito.
(Pemimpin itu hendaknya jadi pengayom)
Janganlah Telunjuk lurus, kelingking bekait..
( janganlah lain di kata lain di hati)
Jangan menggunting kain dalam lipatan, menohok kawan seiring..
(jangan menghianati kawan sendiri)
Hendaknyo masalah iko Jatuh ke api hangus, jatuh ke aek hanyut..
(hendaknya masalah ini cukup selesai di sini/cukup sampai di sini)
Hendaknyo tibo nampak muko, balik nampak punggung..
(hendaknya datang secara baik-baik, pergi juga secara baik-baik)
Awak pipit nak nelan jagung
(impian yang terlalu besar, impian yang tidak mungkin)
Pegi macang babungo, balik macang bapelutik..
(istilah yang dipakai untuk orang yang merantaunya hanya sebentar)
Kalu aek keruh di muaro, cubo tengok ke hulu
(Kalau ada suatu masalah terjadi, cobalah lihat dulu penyebabnya)
Tepagar di kelapo condong, batang di awak buah di kanti
(Istilah ini dipakai untuk yang salah menikahi pasangannya, raga millik kita tapi cinta milik orang lain)
Itulah beberapa pepatah/sloko adat Jambi yang bisa saya informasikan, tentunya masih banyak lagi pepatah-pepatah lain yang sering dipakai dalam keseharian maupun dalam acara adat masyarakat Jambi..
Seloko Dalam Masyarakat Adat Jambi
Apa itu seloko adat? Saya yakin
masih banyak generasi muda Jambi yang belum tau dan bertanya-tanya. Padahal
sebagai generasi penerus (generasi muda), kita wajib untuk mempelajarinya agar
budaya Seloko di bumi Sepucuk Jambi Sembilan Lurah ini tidak terancam punah.
Seloko yang dalam bahasa Indonesia berarti seloka atau pepatah atau dengan kata lain bisa juga disebut sebagai petuah adat. Di Jambi, Seloko adat ini merupakan bagian dari tuntunan bermasyarakat yang mempunyai nilai-nilai yang mengatur kehidupan masyarakat adat Jambi itu sendiri.
Sebagai contoh, dalam hal pengambilan keputusan dalam pemerintahan, seloko adat Jambi menyebutkan “berjenjang naik bertanggo turun, turun dari takak nan di atas, naik dari takak nan di bawah” seloko adat tersebut mempunyai pengertian bahwa dalam pengambilan keputusan terdapat tingkatan-tingkatan pengambilan keputusan,. Mulai dari pengambil keputusan tertinggi “Alam nan Berajo” sampai pengambil keputusan di tingkat paling bawah “Anak nan Berbapak, Kemenakan nan Bermamak”.
Selanjutnya, begitu juga dalam hal bekelompok atau berorganisasi, di dalam masyarakat Jambi mengenal nilai-nilai kegotong-royongan, hal ini tergambar dalam seloko adat “Ringan samo dijinjing, berat samo dipikul, ke bukit samo mendaki, ke lurah samo menurun, malang samo merugi, belabo samo mendapat”. Dalam berorganisasi ini, juga senantiasa mengacu kepada nilai-nilai kemufakatan. Banyak seloko adat Jambi yang menggambarkan pentingnya bermufakat dalam berorganisasi, antara lain “Bulat aek dek pembuluh, bulat kato dek mufakat, Kato sorang kato bapecah kato besamo kato mufakat, duduk sorang besempit-sempit duduk besamo belapang-lapang”.
Beberapa Seloko adat ini juga mengatur dalam hal pergaulan sehari-hari. “Bejalan Peliharo kaki, jangan sampai tepijak kanti, becakap peliharo lidah, jangan sampai kanti meludah, jangan menggunting kain dalam lipatan, menohok kawan seiring”.
Seloko adat ini berfungsi sebagai penuntun untuk berbuat baik bagi masyarakat Jambi. Di dalamnya terkandung nilai-nilai kebaikan. Itulah mengapa Seloko Adat tidak bisa lepas dari keseharian masyarakat Jambi. Orang Jambi sering juga menyebutnya sebagai pepatah-petitih/ petuah adat.
Sebagai penutup ada sebuah seloko yang ingin saya sajikan:
“Batang pulai berjenjang naik, meninggalkan ruas dengan buku, Manusio berjenjang turun meninggalkan perangai dengan laku”.
Jadi, berbuat baiklah selalu sesuai dengan akar budayo kito orang Jambi.
Seloko yang dalam bahasa Indonesia berarti seloka atau pepatah atau dengan kata lain bisa juga disebut sebagai petuah adat. Di Jambi, Seloko adat ini merupakan bagian dari tuntunan bermasyarakat yang mempunyai nilai-nilai yang mengatur kehidupan masyarakat adat Jambi itu sendiri.
Sebagai contoh, dalam hal pengambilan keputusan dalam pemerintahan, seloko adat Jambi menyebutkan “berjenjang naik bertanggo turun, turun dari takak nan di atas, naik dari takak nan di bawah” seloko adat tersebut mempunyai pengertian bahwa dalam pengambilan keputusan terdapat tingkatan-tingkatan pengambilan keputusan,. Mulai dari pengambil keputusan tertinggi “Alam nan Berajo” sampai pengambil keputusan di tingkat paling bawah “Anak nan Berbapak, Kemenakan nan Bermamak”.
Selanjutnya, begitu juga dalam hal bekelompok atau berorganisasi, di dalam masyarakat Jambi mengenal nilai-nilai kegotong-royongan, hal ini tergambar dalam seloko adat “Ringan samo dijinjing, berat samo dipikul, ke bukit samo mendaki, ke lurah samo menurun, malang samo merugi, belabo samo mendapat”. Dalam berorganisasi ini, juga senantiasa mengacu kepada nilai-nilai kemufakatan. Banyak seloko adat Jambi yang menggambarkan pentingnya bermufakat dalam berorganisasi, antara lain “Bulat aek dek pembuluh, bulat kato dek mufakat, Kato sorang kato bapecah kato besamo kato mufakat, duduk sorang besempit-sempit duduk besamo belapang-lapang”.
Beberapa Seloko adat ini juga mengatur dalam hal pergaulan sehari-hari. “Bejalan Peliharo kaki, jangan sampai tepijak kanti, becakap peliharo lidah, jangan sampai kanti meludah, jangan menggunting kain dalam lipatan, menohok kawan seiring”.
Seloko adat ini berfungsi sebagai penuntun untuk berbuat baik bagi masyarakat Jambi. Di dalamnya terkandung nilai-nilai kebaikan. Itulah mengapa Seloko Adat tidak bisa lepas dari keseharian masyarakat Jambi. Orang Jambi sering juga menyebutnya sebagai pepatah-petitih/ petuah adat.
Sebagai penutup ada sebuah seloko yang ingin saya sajikan:
“Batang pulai berjenjang naik, meninggalkan ruas dengan buku, Manusio berjenjang turun meninggalkan perangai dengan laku”.
Jadi, berbuat baiklah selalu sesuai dengan akar budayo kito orang Jambi.
Jambi Negeri Pantun
Mungkin kita
sepakat kalau Jambi kita sebut dengan Negeri Pantun. Kenapa? Tentunya hal ini
beralasan, karena Jambi sangat kaya dengan Pantun-pantunnya. Sudah sewajarnya
imej tersebut melekat pada Jambi.
Anda bisa
perhatikan lirik-lirik lagu Jambi yang umumnya kebanyakan berisikan pantun,
atau anda juga bisa mendengar anak-anak muda di Jambi yang senantiasa
menggunakan pantun sebagai media untuk merayu pasangannya, bahkan di pelosok
Jambi ada sebuah tradisi yang disebut tradisi berbalas pantun.
Di sini saya
coba menghadirkan kepada anda beberapa pantun yang biasa digunakan oleh
masyarakat Jambi :
Batanghari aeknyo tenang
Sungguhpun tenang deras ke tepi
Anak Jambi jangan dikenang
Kalo dikenang merusak hati
Kami ba umo di lereng bukit
Rebah padi digiling batang
Kami umpamo si burung pipit
Kemano terbang di halau orang
Hidup api pangganglah kuau
Kuau tepanggang si abang kaki
Maksud hati nak meraih pulau
Pulau dijago si Nago sakti
Lubuk pungguk tepian Napal
Tempat budak mencuci baju
Awak biduk nak serempak kapal
Idakkan mungkin nyo samo laju
Bederai hujan di rimbo
Tibo di padi bederai jangan
Becerai kito di muko
Namun di hati becerai jangan
Hanya itu
pantun yang bisa saya sajikan, masih banyak pantun-pantun lainnya yang sering
digunakan oleh masayarakat Jambi dalam berbagai acara adat, acara muda-mudi dan
acara-acara lainnya. Saya membayangkan, andai saja suatu saat nanti di Jambi
ada sebuah gapura/ tugu selamat datang yang bertuliskan “SELAMAT DATANG DI
NEGERI PANTUN” Mungkin bagus kali ya? He..he..
Keris Itu Bernama Siginjai
Pernahkah
anda membaca sejarah atau legenda tentang Rangkayo Hitam seorang Raja Jambi
Keturunan Datuk Paduka Berhala dan Ratu Selaras Pinang Masak yang mendirikan
Kerajaan Melayu Jambi? Mungkin tidak banyak yang tahu.. Saya akan menceritakan
sedikit tentang Legenda Rangkayo Hitam kepada anda.
Rangkayo Hitam merupakan seorang Raja Melayu Jambi yang sangat pemberani dan sakti, saat pemerintahan kerajaan dibawah kepemimpinan kakaknya Rangkayo Pingai, Rangkayo Hitam pernah mencegat upeti yang dikirimkan kakaknya kepada kerajaan Mataram yang waktu itu Kerajaan Melayu Jambi merupakan daerah jajahan kerajaan Mataram. Upeti itu berhasil digagalkan oleh Rangkayo Hitam, karena beliau berpendapat bahwa Kerajaan Melayu Jambi merupakan Kerajaan yang berdaulat dan tidak tunduk kepada Kerajaan manapun..
Mendengar adanya gejolak di Kerajaan Melayu Jambi yang tidak mau mengirimkan upeti ke Kerajaan Mataram dan tentang adanya seorang sakti bernama Rangkayo Hitam yang menggegalkan Upeti tersebut, maka Raja Mataram merencanakan akan melakukan penyerangan ke kerajaan Melayu yang disebut serangan Pamalayu dan segera memerintahkan seorang empu untuk membuat sebuah keris sakti yang akan digunakan untuk membunuh Rangkayo Hitam..
Mendengar hal tersebut, Rangkayo Hitam berangkat menuju Kerajaan Mataram untuk menggagalkan rencana tersebut. Di daerah mataram Rangkayo Hitam bertemu dengan seorang empu yang sedang membuat keris. Rangkayo Hitam bertanya kepada empu untuk siapa keris tersebut, empu itupun menjelaskan bahwa keris tersebut untuk Raja Mataram yang katanya akan digunakan untuk membunuh seorang sakti di Kerajaan Melayu Jambi yang bernama Rangkayo Hitam, saat itu empu juga menjelaskan bahwa keris tersebut dibuat dari tujuh macam besi yang diawali oleh huruf P, dan akan sempurna bila telah dimandikan di tujuh muara..
Rangkayo Hitam pun saat itu juga merebut keris tersebut dari tangan sang empu, dan mengatakan bahwa dialah Rangkayo Hitam. Empu itupun akhirnya tewas di tangan Rangkayo Hitam. Setelah mendapatkan keris, Rangkayo Hitam segera kembali ke Kerajaan Melayu untuk menyiapkan segala sesuatu jika nanti kerajaan Mataram jadi menyerang dan segera ia menyempurnakan keris tersebut di tujuh muara.. Hingga keris tersebut menjadi senjata sakti bagi Rangkayo Hitam.
Rangkayo Hitam sering meletakkan keris tersebut di sanggul rambutnya sehingga orang-orang sering menyebutnya dengan sebutan “Ginjai” yang berarti tusuk konde. Sampai akhirnya keris tersebut diberi nama Keris SIGINJAI.
Rangkayo Hitam merupakan seorang Raja Melayu Jambi yang sangat pemberani dan sakti, saat pemerintahan kerajaan dibawah kepemimpinan kakaknya Rangkayo Pingai, Rangkayo Hitam pernah mencegat upeti yang dikirimkan kakaknya kepada kerajaan Mataram yang waktu itu Kerajaan Melayu Jambi merupakan daerah jajahan kerajaan Mataram. Upeti itu berhasil digagalkan oleh Rangkayo Hitam, karena beliau berpendapat bahwa Kerajaan Melayu Jambi merupakan Kerajaan yang berdaulat dan tidak tunduk kepada Kerajaan manapun..
Mendengar adanya gejolak di Kerajaan Melayu Jambi yang tidak mau mengirimkan upeti ke Kerajaan Mataram dan tentang adanya seorang sakti bernama Rangkayo Hitam yang menggegalkan Upeti tersebut, maka Raja Mataram merencanakan akan melakukan penyerangan ke kerajaan Melayu yang disebut serangan Pamalayu dan segera memerintahkan seorang empu untuk membuat sebuah keris sakti yang akan digunakan untuk membunuh Rangkayo Hitam..
Mendengar hal tersebut, Rangkayo Hitam berangkat menuju Kerajaan Mataram untuk menggagalkan rencana tersebut. Di daerah mataram Rangkayo Hitam bertemu dengan seorang empu yang sedang membuat keris. Rangkayo Hitam bertanya kepada empu untuk siapa keris tersebut, empu itupun menjelaskan bahwa keris tersebut untuk Raja Mataram yang katanya akan digunakan untuk membunuh seorang sakti di Kerajaan Melayu Jambi yang bernama Rangkayo Hitam, saat itu empu juga menjelaskan bahwa keris tersebut dibuat dari tujuh macam besi yang diawali oleh huruf P, dan akan sempurna bila telah dimandikan di tujuh muara..
Rangkayo Hitam pun saat itu juga merebut keris tersebut dari tangan sang empu, dan mengatakan bahwa dialah Rangkayo Hitam. Empu itupun akhirnya tewas di tangan Rangkayo Hitam. Setelah mendapatkan keris, Rangkayo Hitam segera kembali ke Kerajaan Melayu untuk menyiapkan segala sesuatu jika nanti kerajaan Mataram jadi menyerang dan segera ia menyempurnakan keris tersebut di tujuh muara.. Hingga keris tersebut menjadi senjata sakti bagi Rangkayo Hitam.
Rangkayo Hitam sering meletakkan keris tersebut di sanggul rambutnya sehingga orang-orang sering menyebutnya dengan sebutan “Ginjai” yang berarti tusuk konde. Sampai akhirnya keris tersebut diberi nama Keris SIGINJAI.
Rabu, 24 September 2008
Hati-hati Teminum Aek Batanghari
Oleh : Adi Suhara
Ini sebuah pesan buat kamu-kamu yang hanya tinggal sementara di Jambi, hati-hati teminum aek Batanghari.. Mungkin secara harfiah istilah tersebut bisa dibenarkan karena kondisi air batanghari saat ini sangat memprihatinkan, seperti yang kita lihat sehari-hari selain disepanjang aliran sungai Batanghari banyak terdapat penambang emas liar yang bisa mencemarkan dengan logam beratnya (merkuri), sungai batanghari sendiri menjadi tempat pembuangan limbah-limbah rumah tangga dari penduduk yang tinggal disepanjang sungai sehingga air Batanghari memang benar-benar tidak layak untuk diminum..
Namun dibalik kebenaran diatas, ternyata ada sebuah pengertian lain dari “ hati-hati teminum aek Batang hari”.. Mungkin kita banyak mendengar orang-orang di sekitar kita secara latah sering menyebutkan “ Kalo sudah teminum aek Batanghari, susah untuk meninggalkan Jambi”. Terlepas benar atau tidak dari mitos tersebut, agaknya kita bisa menemukan sedikit jawaban dari sebuah pantun lawas :
Batanghari aeknyo tenang
Sungguhpun tenang deras ke tepi
Anak Jambi jangan dikenang
Kalo dikenang merusak hati
Barangkali dua bait terakhir dari pantun tersebut adalah jawabannya, mungkin saja memang anak Jambi susah untuk dilupakan atau untuk terlupakan. Sehingga orang yang sudah terlanjur kenal akrab dengan anak Jambi, susah untuk melupakan dan meninggalkan Jambi.. Semoga saja itu benar, kalo memang benar berarti kita patut berbangga sebagai orang Jambi karena orang Jambi termasuk tipe orang yang bersahabat, ramah dan toleran..
Ini sebuah pesan buat kamu-kamu yang hanya tinggal sementara di Jambi, hati-hati teminum aek Batanghari.. Mungkin secara harfiah istilah tersebut bisa dibenarkan karena kondisi air batanghari saat ini sangat memprihatinkan, seperti yang kita lihat sehari-hari selain disepanjang aliran sungai Batanghari banyak terdapat penambang emas liar yang bisa mencemarkan dengan logam beratnya (merkuri), sungai batanghari sendiri menjadi tempat pembuangan limbah-limbah rumah tangga dari penduduk yang tinggal disepanjang sungai sehingga air Batanghari memang benar-benar tidak layak untuk diminum..
Namun dibalik kebenaran diatas, ternyata ada sebuah pengertian lain dari “ hati-hati teminum aek Batang hari”.. Mungkin kita banyak mendengar orang-orang di sekitar kita secara latah sering menyebutkan “ Kalo sudah teminum aek Batanghari, susah untuk meninggalkan Jambi”. Terlepas benar atau tidak dari mitos tersebut, agaknya kita bisa menemukan sedikit jawaban dari sebuah pantun lawas :
Batanghari aeknyo tenang
Sungguhpun tenang deras ke tepi
Anak Jambi jangan dikenang
Kalo dikenang merusak hati
Barangkali dua bait terakhir dari pantun tersebut adalah jawabannya, mungkin saja memang anak Jambi susah untuk dilupakan atau untuk terlupakan. Sehingga orang yang sudah terlanjur kenal akrab dengan anak Jambi, susah untuk melupakan dan meninggalkan Jambi.. Semoga saja itu benar, kalo memang benar berarti kita patut berbangga sebagai orang Jambi karena orang Jambi termasuk tipe orang yang bersahabat, ramah dan toleran..
Langganan:
Postingan (Atom)