Orang Rimba atau yang dikenal dengan Suku Anak Dalam (SAD) merupakan
salah satu etnik tradisional yang ada di Indonesia. Orang Rimba ini
tersebar luas di Propinsi Jambi, dan hanya beberapa saja di Sumatera
Barat dan Sumatera Selatan. Sesuai dengan sebutannya “Orang Rimba”,
keberadaan mereka memang lebih banyak di dalam hutan dan selalu hidup
berpindah-pindah, meskipun sekarang ada yang sudah mulai menetap.
Hutan
merupakan sumber penghasilan Orang Rimba. Kebanyakan mereka
menggantungkan hidup dari berburu hewan liar di hutan, mencari rotan,
atau damar yang akan dijualnya kepada “Orang Terang” (Sebutan Orang
Rimba kepada Penduduk luar). Sampai saat ini Orang Rimba dan Orang
Terang selalu hidup berdampingan, dan tidak ada perselisihan. Menurut
Orang Rimba, Orang Terang adalah saudara mereka, dan sudah ada
perjanjian sejak dahulu kala kalau Orang Rimba tidak boleh mengganggu
Orang Terang dan Orang Terang tidak boleh mengganggu Orang Rimba. Ada
yang unik dari kebiasaan Orang Rimba, mereka tidak mau memakan hewan/
binatang yang dipelihara. Menurut mereka hewan yang dipelihara berjasa
bagi manusia, untuk itu tidak boleh dijadikan makanan.
Mengenai
asal-usul Orang Rimba, ada beberapa pendapat yang berkembang di tengah
masyarakat Jambi. Sebagian ada yang mengatakan kalau Orang Rimba atau
Suku Anak Dalam berasal dari Pagaruyung, Suku Anak Dalam merupakan
prajurit Pagaruyung yang sengaja diutus untuk menyampaikan pesan kepada
Raja Jambi yang diperjalanan Prajurit tersebut tersesat, dan akhirnya
memutuskan untuk hidup di hutan. Pendapat lain menyebutkan kalau Orang
Rimba pada zaman perjuangan dahulu awalnya hanyalah Penduduk Biasa yang
sengaja memutuskan untuk tinggal dan hidup di hutan karena mereka tidak
mau dijajah Belanda. Terlapas benar atau tidak kedua pendapat tersebut,
sampai sekarang pendapat tersebut masih berkembang ditengah masyarakat
Jambi.
Jumat, 10 Agustus 2012
Seloko Adat Jambi
Lain padang lain ilalang, lain lubuk lain ikannya begitu juga lain
tempat, lain pula pepatah adatnya. Berikut ini saya sajikan beberapa
pepatah adat yang ada di tengah masyarakat Jambi sebagai bagian dari
khasanah kebudayaan Indonesia:
Pemimpin itu hendaknyo ibarat sebatang pohon, batangnyo besak tempat besandar, daunnyo rimbun tempat belindung ketiko hujan tempat beteduh ketiko panas, akarnyo besak tempat besilo.. pegi tempat betanyo, balik tempat babarito.
(Pemimpin itu hendaknya jadi pengayom)
Janganlah Telunjuk lurus, kelingking bekait..
( janganlah lain di kata lain di hati)
Jangan menggunting kain dalam lipatan, menohok kawan seiring..
(jangan menghianati kawan sendiri)
Hendaknyo masalah iko Jatuh ke api hangus, jatuh ke aek hanyut..
(hendaknya masalah ini cukup selesai di sini/cukup sampai di sini)
Hendaknyo tibo nampak muko, balik nampak punggung..
(hendaknya datang secara baik-baik, pergi juga secara baik-baik)
Awak pipit nak nelan jagung
(impian yang terlalu besar, impian yang tidak mungkin)
Pegi macang babungo, balik macang bapelutik..
(istilah yang dipakai untuk orang yang merantaunya hanya sebentar)
Kalu aek keruh di muaro, cubo tengok ke hulu
(Kalau ada suatu masalah terjadi, cobalah lihat dulu penyebabnya)
Tepagar di kelapo condong, batang di awak buah di kanti
(Istilah ini dipakai untuk yang salah menikahi pasangannya, raga millik kita tapi cinta milik orang lain)
Itulah beberapa pepatah/sloko adat Jambi yang bisa saya informasikan, tentunya masih banyak lagi pepatah-pepatah lain yang sering dipakai dalam keseharian maupun dalam acara adat masyarakat Jambi..
Pemimpin itu hendaknyo ibarat sebatang pohon, batangnyo besak tempat besandar, daunnyo rimbun tempat belindung ketiko hujan tempat beteduh ketiko panas, akarnyo besak tempat besilo.. pegi tempat betanyo, balik tempat babarito.
(Pemimpin itu hendaknya jadi pengayom)
Janganlah Telunjuk lurus, kelingking bekait..
( janganlah lain di kata lain di hati)
Jangan menggunting kain dalam lipatan, menohok kawan seiring..
(jangan menghianati kawan sendiri)
Hendaknyo masalah iko Jatuh ke api hangus, jatuh ke aek hanyut..
(hendaknya masalah ini cukup selesai di sini/cukup sampai di sini)
Hendaknyo tibo nampak muko, balik nampak punggung..
(hendaknya datang secara baik-baik, pergi juga secara baik-baik)
Awak pipit nak nelan jagung
(impian yang terlalu besar, impian yang tidak mungkin)
Pegi macang babungo, balik macang bapelutik..
(istilah yang dipakai untuk orang yang merantaunya hanya sebentar)
Kalu aek keruh di muaro, cubo tengok ke hulu
(Kalau ada suatu masalah terjadi, cobalah lihat dulu penyebabnya)
Tepagar di kelapo condong, batang di awak buah di kanti
(Istilah ini dipakai untuk yang salah menikahi pasangannya, raga millik kita tapi cinta milik orang lain)
Itulah beberapa pepatah/sloko adat Jambi yang bisa saya informasikan, tentunya masih banyak lagi pepatah-pepatah lain yang sering dipakai dalam keseharian maupun dalam acara adat masyarakat Jambi..
Introduksi Bahasa Dalam Bahasa Jambi
Bahasa Jambi
umumnya tidak jauh beda dengan bahasa melayu lainnya. Selain mempunyai ciri
khas tersendiri, bahasa Jambi juga tidak lepas dari pengaruh bahasa luar daerah
yang ikut membangun bahasa Jambi itu sendiri.
Sebagai contoh, ketika orang Jambi menyebut kata “Bola” yang dalam bahasa Jambi disebut dengan kata “Bal”. Ini adalah introduksi dari bahasa asing yang sebagaimana kita ketahui bahwa orang Inggris juga menyebutnya dengan kata “Ball”. Demikian juga dengan menyebutkan pintu, yang dalam bahasa Jambi seberang di sebut “Lawang”, kata ini kemungkinan introduksi dari bahasa Jawa pada masa lalu yang kemudian membaur dengan bahasa Jambi..
Introduksi bahasa merupakan bagian dari akulturasi budaya. Ini lumrah terjadi, apalagi dengan pesatnya arus teknologi dewasa ini. Kemungkinan akan masuknya pengaruh bahasa luar ke Jambi akan semakin besar. Setidaknya dengan adanya introduksi bahasa luar ke dalam bahasa Jambi, kita harapkan bahasa Jambi itu sendiri tidak kehilangan identitasnya..
Mari kita Lestarikan Adat Budaya Jambi!
Sebagai contoh, ketika orang Jambi menyebut kata “Bola” yang dalam bahasa Jambi disebut dengan kata “Bal”. Ini adalah introduksi dari bahasa asing yang sebagaimana kita ketahui bahwa orang Inggris juga menyebutnya dengan kata “Ball”. Demikian juga dengan menyebutkan pintu, yang dalam bahasa Jambi seberang di sebut “Lawang”, kata ini kemungkinan introduksi dari bahasa Jawa pada masa lalu yang kemudian membaur dengan bahasa Jambi..
Introduksi bahasa merupakan bagian dari akulturasi budaya. Ini lumrah terjadi, apalagi dengan pesatnya arus teknologi dewasa ini. Kemungkinan akan masuknya pengaruh bahasa luar ke Jambi akan semakin besar. Setidaknya dengan adanya introduksi bahasa luar ke dalam bahasa Jambi, kita harapkan bahasa Jambi itu sendiri tidak kehilangan identitasnya..
Mari kita Lestarikan Adat Budaya Jambi!
Seloko Dalam Masyarakat Adat Jambi
Apa itu seloko adat? Saya yakin
masih banyak generasi muda Jambi yang belum tau dan bertanya-tanya. Padahal
sebagai generasi penerus (generasi muda), kita wajib untuk mempelajarinya agar
budaya Seloko di bumi Sepucuk Jambi Sembilan Lurah ini tidak terancam punah.
Seloko yang dalam bahasa Indonesia berarti seloka atau pepatah atau dengan kata lain bisa juga disebut sebagai petuah adat. Di Jambi, Seloko adat ini merupakan bagian dari tuntunan bermasyarakat yang mempunyai nilai-nilai yang mengatur kehidupan masyarakat adat Jambi itu sendiri.
Sebagai contoh, dalam hal pengambilan keputusan dalam pemerintahan, seloko adat Jambi menyebutkan “berjenjang naik bertanggo turun, turun dari takak nan di atas, naik dari takak nan di bawah” seloko adat tersebut mempunyai pengertian bahwa dalam pengambilan keputusan terdapat tingkatan-tingkatan pengambilan keputusan,. Mulai dari pengambil keputusan tertinggi “Alam nan Berajo” sampai pengambil keputusan di tingkat paling bawah “Anak nan Berbapak, Kemenakan nan Bermamak”.
Selanjutnya, begitu juga dalam hal bekelompok atau berorganisasi, di dalam masyarakat Jambi mengenal nilai-nilai kegotong-royongan, hal ini tergambar dalam seloko adat “Ringan samo dijinjing, berat samo dipikul, ke bukit samo mendaki, ke lurah samo menurun, malang samo merugi, belabo samo mendapat”. Dalam berorganisasi ini, juga senantiasa mengacu kepada nilai-nilai kemufakatan. Banyak seloko adat Jambi yang menggambarkan pentingnya bermufakat dalam berorganisasi, antara lain “Bulat aek dek pembuluh, bulat kato dek mufakat, Kato sorang kato bapecah kato besamo kato mufakat, duduk sorang besempit-sempit duduk besamo belapang-lapang”.
Beberapa Seloko adat ini juga mengatur dalam hal pergaulan sehari-hari. “Bejalan Peliharo kaki, jangan sampai tepijak kanti, becakap peliharo lidah, jangan sampai kanti meludah, jangan menggunting kain dalam lipatan, menohok kawan seiring”.
Seloko adat ini berfungsi sebagai penuntun untuk berbuat baik bagi masyarakat Jambi. Di dalamnya terkandung nilai-nilai kebaikan. Itulah mengapa Seloko Adat tidak bisa lepas dari keseharian masyarakat Jambi. Orang Jambi sering juga menyebutnya sebagai pepatah-petitih/ petuah adat.
Sebagai penutup ada sebuah seloko yang ingin saya sajikan:
“Batang pulai berjenjang naik, meninggalkan ruas dengan buku, Manusio berjenjang turun meninggalkan perangai dengan laku”.
Jadi, berbuat baiklah selalu sesuai dengan akar budayo kito orang Jambi.
Seloko yang dalam bahasa Indonesia berarti seloka atau pepatah atau dengan kata lain bisa juga disebut sebagai petuah adat. Di Jambi, Seloko adat ini merupakan bagian dari tuntunan bermasyarakat yang mempunyai nilai-nilai yang mengatur kehidupan masyarakat adat Jambi itu sendiri.
Sebagai contoh, dalam hal pengambilan keputusan dalam pemerintahan, seloko adat Jambi menyebutkan “berjenjang naik bertanggo turun, turun dari takak nan di atas, naik dari takak nan di bawah” seloko adat tersebut mempunyai pengertian bahwa dalam pengambilan keputusan terdapat tingkatan-tingkatan pengambilan keputusan,. Mulai dari pengambil keputusan tertinggi “Alam nan Berajo” sampai pengambil keputusan di tingkat paling bawah “Anak nan Berbapak, Kemenakan nan Bermamak”.
Selanjutnya, begitu juga dalam hal bekelompok atau berorganisasi, di dalam masyarakat Jambi mengenal nilai-nilai kegotong-royongan, hal ini tergambar dalam seloko adat “Ringan samo dijinjing, berat samo dipikul, ke bukit samo mendaki, ke lurah samo menurun, malang samo merugi, belabo samo mendapat”. Dalam berorganisasi ini, juga senantiasa mengacu kepada nilai-nilai kemufakatan. Banyak seloko adat Jambi yang menggambarkan pentingnya bermufakat dalam berorganisasi, antara lain “Bulat aek dek pembuluh, bulat kato dek mufakat, Kato sorang kato bapecah kato besamo kato mufakat, duduk sorang besempit-sempit duduk besamo belapang-lapang”.
Beberapa Seloko adat ini juga mengatur dalam hal pergaulan sehari-hari. “Bejalan Peliharo kaki, jangan sampai tepijak kanti, becakap peliharo lidah, jangan sampai kanti meludah, jangan menggunting kain dalam lipatan, menohok kawan seiring”.
Seloko adat ini berfungsi sebagai penuntun untuk berbuat baik bagi masyarakat Jambi. Di dalamnya terkandung nilai-nilai kebaikan. Itulah mengapa Seloko Adat tidak bisa lepas dari keseharian masyarakat Jambi. Orang Jambi sering juga menyebutnya sebagai pepatah-petitih/ petuah adat.
Sebagai penutup ada sebuah seloko yang ingin saya sajikan:
“Batang pulai berjenjang naik, meninggalkan ruas dengan buku, Manusio berjenjang turun meninggalkan perangai dengan laku”.
Jadi, berbuat baiklah selalu sesuai dengan akar budayo kito orang Jambi.
Jambi Negeri Pantun
Mungkin kita
sepakat kalau Jambi kita sebut dengan Negeri Pantun. Kenapa? Tentunya hal ini
beralasan, karena Jambi sangat kaya dengan Pantun-pantunnya. Sudah sewajarnya
imej tersebut melekat pada Jambi.
Anda bisa
perhatikan lirik-lirik lagu Jambi yang umumnya kebanyakan berisikan pantun,
atau anda juga bisa mendengar anak-anak muda di Jambi yang senantiasa
menggunakan pantun sebagai media untuk merayu pasangannya, bahkan di pelosok
Jambi ada sebuah tradisi yang disebut tradisi berbalas pantun.
Di sini saya
coba menghadirkan kepada anda beberapa pantun yang biasa digunakan oleh
masyarakat Jambi :
Batanghari aeknyo tenang
Sungguhpun tenang deras ke tepi
Anak Jambi jangan dikenang
Kalo dikenang merusak hati
Kami ba umo di lereng bukit
Rebah padi digiling batang
Kami umpamo si burung pipit
Kemano terbang di halau orang
Hidup api pangganglah kuau
Kuau tepanggang si abang kaki
Maksud hati nak meraih pulau
Pulau dijago si Nago sakti
Lubuk pungguk tepian Napal
Tempat budak mencuci baju
Awak biduk nak serempak kapal
Idakkan mungkin nyo samo laju
Bederai hujan di rimbo
Tibo di padi bederai jangan
Becerai kito di muko
Namun di hati becerai jangan
Hanya itu
pantun yang bisa saya sajikan, masih banyak pantun-pantun lainnya yang sering
digunakan oleh masayarakat Jambi dalam berbagai acara adat, acara muda-mudi dan
acara-acara lainnya. Saya membayangkan, andai saja suatu saat nanti di Jambi
ada sebuah gapura/ tugu selamat datang yang bertuliskan “SELAMAT DATANG DI
NEGERI PANTUN” Mungkin bagus kali ya? He..he..
Keris Itu Bernama Siginjai
Pernahkah
anda membaca sejarah atau legenda tentang Rangkayo Hitam seorang Raja Jambi
Keturunan Datuk Paduka Berhala dan Ratu Selaras Pinang Masak yang mendirikan
Kerajaan Melayu Jambi? Mungkin tidak banyak yang tahu.. Saya akan menceritakan
sedikit tentang Legenda Rangkayo Hitam kepada anda.
Rangkayo Hitam merupakan seorang Raja Melayu Jambi yang sangat pemberani dan sakti, saat pemerintahan kerajaan dibawah kepemimpinan kakaknya Rangkayo Pingai, Rangkayo Hitam pernah mencegat upeti yang dikirimkan kakaknya kepada kerajaan Mataram yang waktu itu Kerajaan Melayu Jambi merupakan daerah jajahan kerajaan Mataram. Upeti itu berhasil digagalkan oleh Rangkayo Hitam, karena beliau berpendapat bahwa Kerajaan Melayu Jambi merupakan Kerajaan yang berdaulat dan tidak tunduk kepada Kerajaan manapun..
Mendengar adanya gejolak di Kerajaan Melayu Jambi yang tidak mau mengirimkan upeti ke Kerajaan Mataram dan tentang adanya seorang sakti bernama Rangkayo Hitam yang menggegalkan Upeti tersebut, maka Raja Mataram merencanakan akan melakukan penyerangan ke kerajaan Melayu yang disebut serangan Pamalayu dan segera memerintahkan seorang empu untuk membuat sebuah keris sakti yang akan digunakan untuk membunuh Rangkayo Hitam..
Mendengar hal tersebut, Rangkayo Hitam berangkat menuju Kerajaan Mataram untuk menggagalkan rencana tersebut. Di daerah mataram Rangkayo Hitam bertemu dengan seorang empu yang sedang membuat keris. Rangkayo Hitam bertanya kepada empu untuk siapa keris tersebut, empu itupun menjelaskan bahwa keris tersebut untuk Raja Mataram yang katanya akan digunakan untuk membunuh seorang sakti di Kerajaan Melayu Jambi yang bernama Rangkayo Hitam, saat itu empu juga menjelaskan bahwa keris tersebut dibuat dari tujuh macam besi yang diawali oleh huruf P, dan akan sempurna bila telah dimandikan di tujuh muara..
Rangkayo Hitam pun saat itu juga merebut keris tersebut dari tangan sang empu, dan mengatakan bahwa dialah Rangkayo Hitam. Empu itupun akhirnya tewas di tangan Rangkayo Hitam. Setelah mendapatkan keris, Rangkayo Hitam segera kembali ke Kerajaan Melayu untuk menyiapkan segala sesuatu jika nanti kerajaan Mataram jadi menyerang dan segera ia menyempurnakan keris tersebut di tujuh muara.. Hingga keris tersebut menjadi senjata sakti bagi Rangkayo Hitam.
Rangkayo Hitam sering meletakkan keris tersebut di sanggul rambutnya sehingga orang-orang sering menyebutnya dengan sebutan “Ginjai” yang berarti tusuk konde. Sampai akhirnya keris tersebut diberi nama Keris SIGINJAI.
Rangkayo Hitam merupakan seorang Raja Melayu Jambi yang sangat pemberani dan sakti, saat pemerintahan kerajaan dibawah kepemimpinan kakaknya Rangkayo Pingai, Rangkayo Hitam pernah mencegat upeti yang dikirimkan kakaknya kepada kerajaan Mataram yang waktu itu Kerajaan Melayu Jambi merupakan daerah jajahan kerajaan Mataram. Upeti itu berhasil digagalkan oleh Rangkayo Hitam, karena beliau berpendapat bahwa Kerajaan Melayu Jambi merupakan Kerajaan yang berdaulat dan tidak tunduk kepada Kerajaan manapun..
Mendengar adanya gejolak di Kerajaan Melayu Jambi yang tidak mau mengirimkan upeti ke Kerajaan Mataram dan tentang adanya seorang sakti bernama Rangkayo Hitam yang menggegalkan Upeti tersebut, maka Raja Mataram merencanakan akan melakukan penyerangan ke kerajaan Melayu yang disebut serangan Pamalayu dan segera memerintahkan seorang empu untuk membuat sebuah keris sakti yang akan digunakan untuk membunuh Rangkayo Hitam..
Mendengar hal tersebut, Rangkayo Hitam berangkat menuju Kerajaan Mataram untuk menggagalkan rencana tersebut. Di daerah mataram Rangkayo Hitam bertemu dengan seorang empu yang sedang membuat keris. Rangkayo Hitam bertanya kepada empu untuk siapa keris tersebut, empu itupun menjelaskan bahwa keris tersebut untuk Raja Mataram yang katanya akan digunakan untuk membunuh seorang sakti di Kerajaan Melayu Jambi yang bernama Rangkayo Hitam, saat itu empu juga menjelaskan bahwa keris tersebut dibuat dari tujuh macam besi yang diawali oleh huruf P, dan akan sempurna bila telah dimandikan di tujuh muara..
Rangkayo Hitam pun saat itu juga merebut keris tersebut dari tangan sang empu, dan mengatakan bahwa dialah Rangkayo Hitam. Empu itupun akhirnya tewas di tangan Rangkayo Hitam. Setelah mendapatkan keris, Rangkayo Hitam segera kembali ke Kerajaan Melayu untuk menyiapkan segala sesuatu jika nanti kerajaan Mataram jadi menyerang dan segera ia menyempurnakan keris tersebut di tujuh muara.. Hingga keris tersebut menjadi senjata sakti bagi Rangkayo Hitam.
Rangkayo Hitam sering meletakkan keris tersebut di sanggul rambutnya sehingga orang-orang sering menyebutnya dengan sebutan “Ginjai” yang berarti tusuk konde. Sampai akhirnya keris tersebut diberi nama Keris SIGINJAI.
Denting Waktu
Kau adalah
denting waktu
berpijar
dalam bijak-bijak kata
bukit putih
kau lumuri tinta air laut
savana
menghijau menghampar sajak
daun-daun
bertunas muda
kuncup-kuncup
bermekar bunga
Kau adalah
denting waktu
kadang luka
dalam pijak-pijak kata
Tabir Ulu, 20 Maret 2012
Langganan:
Postingan (Atom)